Asap Karhutla Mengepung Nusantara, Diplomasi Jakarta Kembali Gagap di Hadapan Tetangga

Redaksi - Asap Karhutla Mengepung Nusantara, Diplomasi Jakarta Kembali Gagap di Hadapan Tetangga

Jakarta, Aktualis.ID - Pada Minggu, 11 Oktober 2026, ribuan warga di sejumlah kabupaten di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah kembali menghirup udara beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif, sementara pemerintah pusat belum mampu menunjukkan langkah pencegahan dini yang efektif di tengah keterbatasan fiskal penanggulangan bencana domestik. Di saat yang bersamaan, lonjakan indeks kualitas udara yang memburuk dalam sepekan terakhir memicu protes terbuka dari otoritas lingkungan Malaysia dan Singapura yang kembali mendesak Jakarta menuntaskan polusi asap lintas batas menjelang perhelatan konferensi tingkat tinggi internasional bulan depan. Lemahnya sistem mitigasi, karut-marut penegakan hukum terhadap korporasi pemegang hak guna usaha yang berulang kali lolos dari jerat pidana, serta respons diplomasi lingkungan yang defensif memperlihatkan bagaimana krisis ekologis ini terus berulang tanpa evaluasi struktural yang berarti.

Lemahnya pengawasan di tingkat tapak dituding sebagai akar masalah yang sengaja dibiarkan. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Eksekutif Nasional, Zenzi Suhadi, menilai bahwa pemerintah terperangkap dalam siklus pemadam kebakaran reaktif ketimbang membenahi hulu perizinan konsesi korporasi.

▼ SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA ▼
▲ LANJUTAN ARTIKEL ▲
Baca juga

"Negara tampak tak berdaya ketika berhadapan dengan korporasi besar pemilik konsesi. Sanksi administratif yang ringan dan pencabutan izin yang setengah-setengah membuktikan bahwa penegakan hukum kita tumpul ke atas," ujar Zenzi saat dihubungi di Jakarta, Minggu (11/10).

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup berulang kali mengeluarkan pernyataan normatif yang mengeklaim titik panas telah menurun secara statistik, namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Di Pontianak, Kalimantan Barat, puluhan penerbangan domestik terpaksa ditunda akibat jarak pandang yang merosot tajam di bawah 500 meter, memukul sektor ekonomi lokal yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan fiskal pascapandemi.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement