Budaya Peti Es Korupsi: Saat Tradisi Suap Birokrasi Dilegalkan Lewat Alibi Aliran Dana

Redaksi - Budaya Peti Es Korupsi: Saat Tradisi Suap Birokrasi Dilegalkan Lewat Alibi Aliran Dana

Jakarta, Aktualis.ID - Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, publik kembali dikejutkan oleh realitas busuk yang mengakar di tubuh birokrasi pemerintahan daerah di Indonesia. Polemik memuncak menyusul pernyataan kontroversial Fadia Arafiq yang secara terbuka menyebut bahwa penerimaan dana dari sesama pejabat telah bertransformasi menjadi sebuah tradisi lumrah. Pernyataan ini tidak hanya memicu kemarahan publik di berbagai platform, tetapi juga membuka tabir gelap bagaimana praktik suap dan gratifikasi sistemik dinormalisasi secara terstruktur di berbagai level pemerintahan, mengalahkan akal sehat hukum dan etika publik.

Praktek lancung ini terungkap ke permukaan tatkala lembaga pengawas internal dan aparat penegak hukum di Jakarta dan sejumlah daerah mendapati aliran dana ilegal yang mengalir deras tanpa hambatan birokratis yang berarti, di mana para pelakunya berlindung di balik dalih kebiasaan turun-temurun. Mengapa hal ini terus terjadi? Jawabannya terletak pada lemahnya instrumen pengawasan internal dan impunitas yang telah mendarah daging, yang memungkinkan pejabat publik menjadikan jabatan mereka sebagai lumbung transaksi terselubung.

▼ SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA ▼
▲ LANJUTAN ARTIKEL ▲
Baca juga

"Ketika gratifikasi dan suap dibungkus rapi dengan istilah 'tradisi' atau 'budaya', saat itulah runtuh sudah benteng pertahanan moral birokrasi kita," ujar Dr. Zainal Arifin, pengamat hukum tata negara dan kebijakan publik dari Universitas Indonesia, saat dihubungi pada Jumat (09/10/2026). Menurutnya, pembelaan para pejabat terhadap aliran dana ilegal ini menunjukkan gejala hilangnya rasa malu secara kolektif di kalangan elite pemerintahan.

Lemahnya sistem pengawasan internal instansi pemerintah (SPIP) kerap menjadi lubang hitam yang dimanfaatkan untuk melanggengkan tindak pidana korupsi berkedok kebiasaan. Inspektorat di berbagai daerah sering kali kehilangan taring ketika berhadapan dengan jejaring kekerabatan dan patronase politik yang melindungi para pelaku korupsi kerah putih tersebut. Alih-alih menegakkan disiplin, birokrasi justru menciptakan ekosistem yang permisif terhadap segala bentuk suap demi menjaga kelangsungan 'koalisi kenyamanan' antar-pejabat.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement