Hujan Mundur 30 Hari, El Niño Ancam Sawah dan Ketahanan Pangan dari Jawa hingga NTT
Kupang, Aktualis.ID – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat menjadi perhatian serius menjelang musim tanam 2026/2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran, sehingga petani di sejumlah daerah perlu menyesuaikan jadwal tanam untuk mengantisipasi kekurangan air dan potensi gagal panen.
Berdasarkan prediksi musim hujan 2026/2027 yang dirilis BMKG pada 22 September 2026 dan diperbarui melalui publikasi 2 Oktober 2026, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan awal musim hujan dibandingkan kondisi normal. Kemunduran tersebut di sejumlah wilayah dapat mencapai 20 hingga 30 hari, sehingga berpotensi memperpanjang periode kering ketika lahan pertanian membutuhkan pasokan air untuk memulai penanaman.
BMKG juga memperingatkan kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperkuat kondisi kering di Indonesia. El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi sirkulasi atmosfer. Sementara itu, IOD positif berkaitan dengan perbedaan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sekitar Indonesia. Kombinasi keduanya dapat mengurangi peluang hujan dan memperpanjang kekeringan di sejumlah daerah.
Data BMKG menunjukkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar 2,83 derajat Celsius pada Agustus 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan El Niño sangat kuat berdasarkan pemantauan saat itu. BMKG memperkirakan pengaruh El Niño dapat bertahan hingga awal 2027. Meski demikian, tingkat dampak yang dirasakan setiap daerah tidak selalu sama karena dipengaruhi kondisi geografis, pola angin, ketersediaan air, serta perkembangan dinamika atmosfer dan laut.
Kata Aktualizer
- Belum ada komentar.