Di sisi lain, kalangan investor institusi dan manajer investasi mulai menyesuaikan portofolio dengan mengalihkan aset ke instrumen yang lebih defensif. Sektor barang konsumsi primer dan utilitas menjadi pilihan utama untuk meminimalkan risiko kerugian lebih dalam selama periode volatilitas tinggi ini.
Pelaku pasar kini menanti rilis data makroekonomi terbaru, khususnya angka pertumbuhan ekonomi kuartal berjalan serta neraca perdagangan nasional. Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi investor untuk membaca arah kebijakan moneter Bank Indonesia selanjutnya dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.