Hujan Mundur 30 Hari, El Niño Ancam Sawah dan Ketahanan Pangan dari Jawa hingga NTT

Bagi petani hortikultura, kekeringan dapat meningkatkan kebutuhan penyiraman dan biaya produksi. Tanaman sayuran, cabai, bawang, serta berbagai komoditas buah memerlukan pengelolaan air yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. Kekurangan air dapat menekan pertumbuhan dan kualitas hasil, sedangkan suhu tinggi serta kondisi lingkungan yang berubah juga dapat memengaruhi produktivitas. Jika produksi menurun secara luas, pasokan sejumlah komoditas di pasar berpotensi berkurang dan mendorong kenaikan harga, meskipun perkembangan harga juga dipengaruhi distribusi, permintaan, dan pasokan dari daerah lain.

Dampak ekonomi bagi petani dapat muncul ketika biaya pengairan meningkat sementara hasil panen menurun. Petani yang menggunakan pompa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar, listrik, perawatan mesin, atau distribusi air. Jika penanaman tertunda terlalu lama, masa panen dapat bergeser dan mengganggu jadwal tanam berikutnya. Pada kondisi yang lebih berat, kekurangan air berkepanjangan dapat menyebabkan puso. Situasi ini berpotensi mengurangi pendapatan rumah tangga petani sekaligus memengaruhi pasokan pangan dari wilayah produksi terdampak.

▼ SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA ▼
▲ LANJUTAN ARTIKEL ▲
Baca juga

Musim Hujan Lebih Pendek, Risiko Tetap Perlu Diwaspadai

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan dengan akumulasi curah hujan berkategori normal. Namun, kondisi tersebut tidak berarti risiko kekeringan dapat diabaikan. Dalam prediksi yang sama, sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek daripada kondisi normal. Artinya, waktu tersedianya hujan dapat menjadi lebih terbatas meskipun jumlah akumulasinya selama periode musim hujan secara keseluruhan berada pada kategori normal.

Perubahan waktu dan durasi hujan tersebut juga perlu diperhatikan karena hujan yang terkonsentrasi dalam periode lebih singkat dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem pengelolaan air. BMKG memprediksi puncak musim hujan di banyak wilayah terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Namun, waktu puncak berbeda-beda menurut daerah dan zona musim. Hujan yang datang terlambat tidak otomatis menjamin kebutuhan air pertanian akan terpenuhi sepanjang musim tanam, terutama apabila jeda antarkejadian hujan cukup panjang.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Advertisement