Makna Lagu “IQRO’” Raim Laode: Ajakan Membaca Diri, Semesta, dan Jalan Pulang kepada Tuhan

SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA

JAKARTA, Aktualis.ID – Lagu “IQRO’” dari Raim Laode hadir bukan sekadar sebagai karya musik reflektif, tetapi juga sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, menatap semesta, lalu membaca ulang posisi manusia di hadapan Tuhan. Dari kanal resmi Raim Laode, lagu ini digambarkan sebagai perjalanan rasa takjub atas langit, bintang, dan seluruh ciptaan yang pada akhirnya membawa manusia bersujud kepada Sang Pencipta.

Judul “IQRO’” sendiri mengandung pesan kuat. Sejumlah ulasan media menafsirkan kata itu sebagai seruan untuk “membaca” bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca diri sendiri, membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam, dan membaca hidup dengan lebih jujur. Karena itu, lagu ini terasa seperti perenungan spiritual yang dibungkus dengan bahasa sederhana, namun menusuk.

Baca juga Sponsored / Suggested
Baca juga Sponsored / Suggested

Dari makna liriknya, ada satu benang merah yang sangat kuat: manusia itu kecil, tetapi sering besar dalam kesombongan. Ulasan berbagai media terhadap lagu ini menyoroti bagaimana Raim Laode menggambarkan manusia sebagai bagian yang amat kecil dari semesta, namun tetap mudah terjebak dalam ego. Dari sana, “IQRO’” bergerak menjadi lagu tentang kesadaran diri—tentang mengakui keterbatasan, mengakui kebingungan, lalu meminta tuntunan agar tidak tersesat dalam hiruk-pikuk dunia.

Makna berikutnya yang paling menonjol adalah soal pencarian arti hidup. Lagu ini tidak menawarkan jawaban yang mewah atau rumit. Justru kekuatannya ada pada pengakuan bahwa sampai titik tertentu manusia masih terus mencari, masih bertanya, dan masih berusaha memahami dunia yang ramai, tetapi sering terasa sunyi. Di titik ini, “IQRO’” terasa dekat dengan banyak orang karena ia berbicara tentang kegelisahan yang sangat manusiawi.

Selain itu, lagu ini juga menekankan bahwa kebahagiaan bukan semata urusan masa depan. Beberapa pembacaan terhadap lagu ini menyoroti pesan bahwa bahagia tidak selalu berada di “nanti”, melainkan bisa ditemukan di “sekarang”, saat manusia mampu hadir utuh dalam hidupnya. Dari sini, Raim Laode seperti menggeser cara pandang pendengar: dari mengejar sesuatu yang belum tentu datang, menjadi menghargai waktu, kesempatan, dan kesadaran yang sedang dimiliki hari ini.

Like 1
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement