Ilustrasi - Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100

Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100

SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA

Aktualis.ID - Gelombang jual melanda bursa saham Amerika Serikat ketika eskalasi perang Iran-Israel kembali memukul sentimen investor global. Indeks S&P 500 merosot 1,7 persen, Dow Jones turun 1 persen, sementara Nasdaq ambruk 2,4 persen dan resmi masuk wilayah koreksi. Koreksi tajam ini bukan sekadar reaksi spontan terhadap kabar perang, melainkan cerminan kekhawatiran yang lebih dalam: pasar mulai menghitung biaya ekonomi dari konflik yang makin panjang, dari energi hingga inflasi, dari suku bunga hingga laba korporasi.

Akar kepanikan pasar kali ini bukan hanya dentuman misil di Timur Tengah, tetapi juga runtuhnya harapan de-eskalasi. Setelah sempat muncul optimisme soal peluang jeda konflik, sentimen itu buyar ketika Iran menolak sinyal damai dari Washington. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump mengirim pesan yang saling bertabrakan: di satu sisi membuka ruang jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran, di sisi lain tetap melontarkan ancaman keras. Bagi pasar, ketidakpastian seperti ini lebih berbahaya daripada kabar buruk yang jelas arahnya.

Baca juga Sponsored / Suggested

Yang membuat Wall Street benar-benar limbung adalah efek perang terhadap minyak. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia—mendorong Brent bertahan di atas US$100 per barel dan mempertebal kekhawatiran gangguan pasokan global. Ketika harga energi melonjak, pelaku pasar langsung membaca ancaman berantai: biaya logistik naik, tekanan harga barang menguat, daya beli rumah tangga tergerus, dan bank sentral makin sulit menurunkan suku bunga. Dengan kata lain, perang regional berubah menjadi ancaman ekonomi global.

Tekanan paling keras terjadi pada saham-saham teknologi, sektor yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar Amerika. Nasdaq kini turun hampir 11 persen dari rekor tertingginya pada 29 Oktober dan resmi masuk fase koreksi. Nama-nama besar seperti Microsoft, Alphabet, Nvidia, Tesla, hingga Meta ikut terseret, menunjukkan bahwa dalam fase risk-off, investor cenderung keluar dari aset berisiko tinggi lebih dulu. Ketika perang mendorong harga minyak naik dan imbal hasil obligasi menanjak, valuasi saham teknologi yang mahal langsung menjadi sasaran koreksi.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement