Kuwait Petroleum Corporation (KPC) menyatakan bahwa Al Salmi diserang saat berjangkar di Pelabuhan Dubai. Serangan ini bagian dari rangkaian insiden sejak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari lalu.
Trump juga menekankan bahwa negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik.” Namun, ia menambahkan bahwa “kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi” dengan Iran.
Akar kepanikan pasar kali ini bukan hanya dentuman misil di Timur Tengah, tetapi juga runtuhnya harapan de-eskalasi. Setelah sempat muncul optimisme soal peluang jeda konflik, sentimen itu buyar ketika Iran menolak sinyal damai dari Washington.
Penundaan ini dinilai sebagai sinyal de-eskalasi pertama setelah ketegangan meningkat tajam akibat ancaman serangan terhadap fasilitas vital Iran.
Sementara itu, Reuters menulis bahwa banyak negara Teluk kini justru mendesak Washington agar tidak menghentikan perang sebelum kemampuan militer Iran benar-benar dilumpuhkan. Menurut sejumlah sumber Teluk dan diplomat Barat-Arab, serangan Iran ke enam negara Teluk telah mengubah kalkulasi politik kawasan dan memperkuat desakan agar ancaman dari Teheran dine
Dalam pernyataannya, juru bicara militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi atau pelabuhan Iran akan dibalas dengan tindakan yang “menghancurkan dan merusak.”
Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya untuk mengurangi tekanan ekonomi yang meningkat akibat konflik regional yang melibatkan Iran dan meningkatnya biaya keamanan serta gangguan pada sektor energi di kawasan Teluk.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama perubahan itu. Reuters melaporkan lalu lintas kapal di jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia turun tajam, sementara ratusan kapal sempat tertahan di sekitar kawasan tersebut. Dalam situasi itu, pembeli Asia mulai mencari pasokan yang lebih cepat tersedia dan tidak terlalu bergantung