Ilustrasi - Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100

Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100

SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA

Dari sudut pandang makroekonomi, pasar sebenarnya sedang mengirim pesan yang sangat jelas: perang ini berpotensi menunda mimpi pemangkasan suku bunga. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook bahkan menyatakan keseimbangan risiko kini bergeser ke arah inflasi akibat perang Iran. Artinya, fokus bank sentral bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan atau lapangan kerja, tetapi juga menahan lonjakan harga yang didorong energi. Ketika ekspektasi pemotongan suku bunga memudar, saham kehilangan salah satu penopang terbesarnya, sementara obligasi ikut dilanda volatilitas tinggi.

Dampaknya pun tidak berhenti di New York. Bursa Asia ikut melemah setelah Wall Street mencatat hari terburuknya sejak perang dimulai, sementara Kanada juga terpukul oleh kombinasi harga minyak, dolar AS yang kuat, dan ketegangan geopolitik. Korea Selatan sampai menggelar pembelian kembali obligasi senilai 5 triliun won dan memperluas insentif pajak bahan bakar untuk meredam guncangan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa pasar kini tidak lagi membaca perang Iran-Israel sebagai isu kawasan, melainkan sebagai shock global yang menular ke kebijakan fiskal dan moneter negara lain.

Baca juga Sponsored / Suggested
Baca juga Sponsored / Suggested

Secara militer, perang yang dimulai pada 28 Februari itu telah berkembang menjadi konflik yang jauh lebih luas dari perkiraan awal. Reuters melaporkan serangan Iran menjangkau target-target Israel dan pangkalan AS-Inggris di Diego Garcia, sementara operasi Amerika dan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran dan 15 orang di Israel per 21 Maret. Eskalasi inilah yang membuat pelaku pasar percaya bahwa risiko perang berkepanjangan bukan lagi skenario pinggiran, melainkan kemungkinan utama yang harus dihitung dalam valuasi aset.

Di tengah memanasnya perang, jalur diplomasi memang masih bergerak, tetapi belum cukup meyakinkan untuk menenangkan investor. Pakistan, Mesir, dan Turki disebut menjadi mediator antara Teheran dan Washington, sementara proposal damai 15 poin dari Amerika masih ditinjau Iran. Teheran, di sisi lain, mengajukan syarat berat seperti penghentian permanen perang, kompensasi kerusakan, dan pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz. Jarak posisi yang masih sangat lebar itu membuat pasar menilai bahwa gencatan senjata cepat belum tentu realistis dalam waktu dekat.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement