Ilustrasi - Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100
Wall Street Terguncang Perang Iran-Israel, Saham AS Rontok Saat Minyak Tembus US$100
Meski begitu, ada sudut pandang lain yang juga penting: tidak semua pelaku pasar percaya Wall Street akan runtuh lebih dalam. Reuters mencatat sebagian analis masih melihat laba perusahaan Amerika cukup kuat untuk menahan tekanan jangka pendek, bahkan memperkirakan pertumbuhan laba kuartal pertama tetap solid. Sektor energi dan utilitas justru relatif lebih tahan terhadap guncangan ini karena diuntungkan oleh harga komoditas yang tinggi. Artinya, pasar belum sepenuhnya masuk mode panik total, tetapi sedang melakukan repricing keras terhadap risiko geopolitik yang sebelumnya diremehkan.
Pada akhirnya, kejatuhan saham AS kali ini mengajarkan satu hal penting: pasar tidak hanya takut pada perang, tetapi pada perang yang mengganggu aliran energi, menyalakan inflasi, dan mengaburkan arah kebijakan suku bunga. Selama Selat Hormuz belum benar-benar pulih, harga minyak masih liar, dan diplomasi belum menghasilkan jalan keluar yang kredibel, Wall Street akan tetap rapuh. Jadi, cerita besarnya bukan sekadar indeks yang jatuh dalam sehari, melainkan bagaimana konflik Timur Tengah berubah menjadi bom waktu bagi ekonomi global. (*)