Trump juga menekankan bahwa negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik.” Namun, ia menambahkan bahwa “kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi” dengan Iran.
Yang paling menyita perhatian adalah dua video pendek yang muncul pada malam 25 Maret. Video pertama yang kemudian dihapus menampilkan rekaman ponsel mengarah ke bawah, memperlihatkan sepatu bot hitam dan suara perempuan yang bertanya, “It’s launching soon, right?”, lalu dijawab suara laki-laki di luar kamera.
Ia menyebut bahwa alasan utama di balik sikap tertutup Iran adalah rasa takut terhadap konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa ia telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan menjaga keamanan energi nasional.
Selain itu, Pakistan juga memiliki hubungan historis dan budaya dengan Iran, yang dapat menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan antara pihak-pihak yang bertikai.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai bagian dari manipulasi informasi.
Pasar saham di kawasan Asia Pasifik anjlok tajam pada awal pekan akibat ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Fokus utama konflik kini juga tertuju pada Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Kapal selam tersebut adalah HMS Anson, salah satu armada canggih milik Royal Navy. Kapal ini dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi, termasuk meluncurkan serangan presisi jarak jauh.
Dalam pernyataannya, Trump memberikan tenggat waktu yang tegas kepada Iran. Ia menuntut agar jalur air vital tersebut segera dibuka dalam waktu 48 jam.