Strategi Jenius Abu Dhabi: Keluar dari OPEC Saat Hormuz Terkunci, UAE Incar Kendali Penuh

Redaksi - Strategi Jenius Abu Dhabi: Keluar dari OPEC Saat Hormuz Terkunci, UAE Incar Kendali Penuh

Abu Dhabi, Aktualis.ID - Dunia energi terguncang malam ini, Selasa (28/4/2026), setelah Uni Emirat Arab (UAE) secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari kartel minyak dunia, OPEC. Namun, di balik langkah yang tampak drastis ini, tersembunyi kalkulasi geopolitik yang sangat matang: Abu Dhabi memilih untuk "bercerai" justru di saat Selat Hormuz terkunci rapat akibat kecamuk perang Iran. Keputusan yang akan berlaku efektif mulai akhir pekan ini bukan sekadar luapan emosi diplomatik, melainkan sebuah manuver taktis yang memanfaatkan kebuntuan logistik global untuk melepas belenggu kuota produksi tanpa risiko merusak harga pasar secara instan.

Menteri Energi UAE, Suhail Al Mazrouei, menegaskan bahwa pemilihan waktu (timing) adalah kunci utama dari kebijakan kedaulatan ini. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa saat ini semua pihak tengah terkendala oleh penutupan jalur distribusi utama, sehingga keluarnya UAE tidak akan memberikan tekanan harga yang mengejutkan bagi negara-negara sahabat. "Waktunya sangat tepat karena keputusan ini tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar dan harga, mengingat Selat Hormuz sedang ditutup dan dibatasi. Mengambil keputusan sekarang justru membantu rekan-rekan kami untuk tidak merasakan tekanan pada harga," ujar Al Mazrouei. Ia juga mempertegas bahwa langkah ini adalah keputusan nasional yang berdaulat dan murni kebijakan kebijakan ekonomi demi mengejar kelincahan (agility) pasar, bukan sebuah manuver politik untuk memusuhi sekutu lamanya.

▼ SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA ▼
▲ LANJUTAN ARTIKEL ▲
Baca juga Sponsored / Suggested

Selama ini, UAE merasa kapasitas produksinya "dikebiri" oleh kuota OPEC yang membatasi output mereka di angka 3,2 juta barel per hari, padahal investasi infrastruktur mereka telah siap untuk memacu produksi hampir dua kali lipat. Robin Mills, CEO Qamar Energy, menilai bahwa jika ada waktu terbaik untuk keluar, maka sekaranglah saatnya. Ia memprediksi langkah Abu Dhabi ini akan memicu efek domino bagi produsen besar lainnya, seperti Kazakhstan, yang juga ingin tumbuh tanpa hambatan batasan produksi dari kartel.

Di sisi lain, dimensi baru muncul dari Washington di mana Presiden Donald Trump mengklaim telah menerima informasi bahwa Teheran sedang berada dalam kondisi "nyaris runtuh" (State of Collapse). Melalui unggahan media sosialnya, Trump mensinyalir bahwa Iran kini tengah memohon agar Selat Hormuz segera dibuka kembali sementara mereka bergelut dengan krisis kepemimpinan internal dan sulitnya komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Langkah UAE keluar dari OPEC di saat Iran melemah menunjukkan posisi tawar Abu Dhabi yang sangat kuat; begitu perang mereda dan Hormuz kembali dibuka, UAE akan berdiri sebagai pemain mandiri yang siap membanjiri pasar dengan pasokan minyaknya secara fleksibel.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement