Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi yang “baik dan produktif” antara pihak Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataannya, Trump memberikan tenggat waktu yang tegas kepada Iran. Ia menuntut agar jalur air vital tersebut segera dibuka dalam waktu 48 jam.
Saran tersebut mencerminkan pendekatan lama kerajaan Saudi terhadap Iran, yang sebelumnya juga disuarakan oleh mendiang Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud.
Insiden tersebut terjadi selama pelaksanaan Operasi Epic Fury yang merupakan bagian dari rangkaian operasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sekitar 45 persen impor minyak China diperkirakan melewati selat tersebut. Ketergantungan ini membuat stabilitas jalur pelayaran menjadi kepentingan utama bagi pemerintah China.
Penutupan wilayah udara itu dilakukan segera setelah muncul laporan mengenai serangan udara di sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota, Teheran.