Trump juga menekankan bahwa negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik.” Namun, ia menambahkan bahwa “kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi” dengan Iran.
Ia menyebut bahwa alasan utama di balik sikap tertutup Iran adalah rasa takut terhadap konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai bagian dari manipulasi informasi.
Pasar saham di kawasan Asia Pasifik anjlok tajam pada awal pekan akibat ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan persepsi antara AS dan sekutunya mengenai tanggung jawab kolektif dalam krisis global.
Harga minyak melonjak setelah Iran menghentikan lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut sekitar 20% minyak dunia.
Sementara itu, Reuters menulis bahwa banyak negara Teluk kini justru mendesak Washington agar tidak menghentikan perang sebelum kemampuan militer Iran benar-benar dilumpuhkan. Menurut sejumlah sumber Teluk dan diplomat Barat-Arab, serangan Iran ke enam negara Teluk telah mengubah kalkulasi politik kawasan dan memperkuat desakan agar ancaman dari Teheran dine
Trump kemudian menegaskan bahwa hasil akhir yang ia inginkan adalah Iran menyerah, atau setidaknya dibuat tidak lagi berguna dari sisi kemampuan militer. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Gedung Putih masih mempertahankan garis keras terhadap Teheran di tengah eskalasi konflik yang terus berkembang.
Dalam pidato televisi nasional, Sánchez menegaskan bahwa kebijakan negara itu dapat diringkas dalam empat kata: no to war (tidak untuk perang). Ia menekankan bahwa Spanyol tidak akan terlibat dalam sesuatu yang dianggap merusak dunia dan bertentangan dengan nilai-nilai serta kepentingan nasionalnya semata karena takut akan pembalasan.