Wikimedia - Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif saat pertemuan di Kementerian Luar Negeri Iran
Di Tengah Gempuran AS - Israel, Seberapa Jauh Beijing Berani Membantu Teheran?
Aktualis.ID - Hubungan antara China dan Iran bukan sekadar sekutu biasa, tetapi merupakan salah satu kemitraan strategis yang paling penting di panggung geopolitik global. Kedua negara telah memperkuat kerja sama ekonomi, perdagangan, dan diplomatik dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah mereka menandatangani program kerja sama komprehensif berdurasi 25 tahun pada 2021 yang menjanjikan investasi besar dari China dan pasokan minyak yang stabil dari Iran kepada Beijing. Kesepakatan itu mencerminkan saling ketergantungan yang dalam, terutama pada sektor energi dan infrastruktur.
Namun, ketika konflik baru meletus di Timur Tengah akibat serangan militer yang dilancarkan oleh United States dan Israel terhadap wilayah Iran, banyak pengamat menyoroti sejauh mana China benar-benar membantu Teheran menghadapi tekanan ini. Beijing telah menyatakan kritik dan kecaman diplomatik yang tegas atas serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Iran dan menegaskan bahwa warga sipil tidak boleh menjadi target konflik bersenjata. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, bahkan menyatakan bahwa perlindungan warga sipil merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar dalam konflik apa pun.
Selain itu, China juga secara aktif mendesak agar serangan militer dihentikan dengan segera. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, berbicara langsung dengan Menlu Israel, mengatakan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung telah menggagalkan proses negosiasi yang sebelumnya menunjukkan kemajuan, dan menekankan bahwa peningkatan ketegangan tidak selaras dengan kepentingan bersama komunitas internasional.
Beijing juga telah menegaskan melalui konferensi pers bahwa serangan militer tersebut tidak memiliki mandat dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan menyerukan penghentian eskalasi konflik tersebut sambil mendukung koordinasi dan dialog diplomatik guna menjaga stabilitas kawasan. Pemerintah China menekankan bahwa siapa pun yang terlibat dalam konflik harus bertindak sesuai hukum internasional dan menghormati integritas wilayah negara lain.
Meski China menunjukkan dukungan politik dan diplomatik kuat terhadap Iran, langkah Beijing ternyata tidak sampai pada dukungan militer langsung seperti pengiriman senjata atau pasukan ke lapangan. Menurut sejumlah analis strategis, termasuk laporan yang diterbitkan media internasional, meskipun Iran adalah pemasok minyak utama bagi China dan kemitraan strategis antara kedua negara adalah nyata, Beijing menghindari intervensi militer langsung dalam konflik tersebut. Ini mencerminkan perhitungan Beijing yang pragmatis untuk memastikan hubungan dagang dan stabilitas regional, serta mempertahankan posisinya sebagai kekuatan global tanpa mengambil risiko konfrontasi militer besar dengan Amerika Serikat.
Kata Aktualizer
- Belum ada komentar.