Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN per Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun, setara 0,98% PDB, akibat melambatnya penerimaan dan akselerasi belanja.
Pemerintah berargumen akselerasi belanja sosial dapat menjadi “penyangga” ketika konsumsi rumah tangga perlu dijaga momentumnya, terutama pada periode awal tahun saat aktivitas ekonomi biasanya kembali menanjak.