Baru seumur jagung sebuah kesepakatan de-eskalasi dicapai, Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon, memicu kekhawatiran global.
Benjamin Netanyahu blak-blakan soal interaksinya dengan Donald Trump terkait serangan Iran, menegaskan hanya memberi tahu, bukan meminta izin. Menyoroti kedaulatan Israel.
Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi yang “baik dan produktif” antara pihak Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Netanyahu menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari tekanan militer dan strategi keamanan yang diterapkan dalam beberapa waktu terakhir.
Menanggapi tuduhan itu, Netanyahu bercanda dengan meminta orang yang merekam untuk menghitung jari tangannya.
Dalam pernyataannya, juru bicara militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi atau pelabuhan Iran akan dibalas dengan tindakan yang “menghancurkan dan merusak.”
Wang mengatakan penggunaan kekuatan militer bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah, karena senjata hanya akan melahirkan kebencian baru dan menambah penderitaan, terutama bagi warga sipil.
Di wilayah Givatayim, yang berada dekat Tel Aviv, Reuters juga menampilkan foto kerusakan bangunan setelah serangan rudal Iran. Ini menunjukkan bahwa ancaman hari ini bukan hanya berupa alarm dan pencegatan di udara, tetapi juga berdampak pada kawasan permukiman di sekitar metropolitan Tel Aviv.
Pada Rabu, 4 Maret 2026, televisi pemerintah Iran sempat melaporkan bahwa peti jenazah Khamenei akan ditempatkan di Mosalla Teheran untuk penghormatan publik. Akan tetapi, jadwal itu kembali berubah, dari siang ke malam, lalu kembali ditunda tanpa kepastian waktu.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyatakan pembahasan terkait BoP sedang ditunda (on hold) karena perhatian global tersedot ke eskalasi konflik di Iran. Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut Indonesia juga melakukan konsultasi dengan negara-negara Teluk yang terdampak.